Pangkep — Kebakaran hutan dan lahan yang menerjang kawasan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terus meluas hingga mencapai 93,43 hektare. Selain memicu kerusakan vegetasi dan mengancam satwa endemik seperti tarsius, kobaran api kini membakar area yang berjarak hanya beberapa meter di atas situs gua prasejarah.

Berdasarkan data pengendalian karhutla TN Babul hingga Rabu (14/10/2026), eskalasi kebakaran meningkat signifikan dari 34,74 hektare pada 12 Oktober menjadi akumulasi 93,43 hektare. Titik api terkonsentrasi di dua lokasi utama, yakni kawasan Wae Sellue (Kelurahan Kassi) dan Batu Napara (Kelurahan Balocci Baru), dengan posko utama penanganan dipusatkan di Kantor SPTN Wilayah I Minasatene.

Kepala Balai TN Babul, Abdul Rajab, mengonfirmasi bahwa kobaran api melalap habis vegetasi berupa tegakan pohon jati dan rumpun bambu dari lantai hingga tajuk pegunungan karst.

“Total akumulasi luas karhutla sampai hari ini sudah mencapai 93,43 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan pohon jati dan rumpun bambu,” kata Abdul Rajab.

Upaya pemadaman oleh 37 personel gabungan—terdiri dari Manggala Agni, Polhut, Pengendali Ekosistem Hutan, Masyarakat Mitra Polhut, serta Damkar Pangkep—menghadapi kendala topografi yang sangat berat. Api berada pada ketinggian 79 hingga 501 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan tebing karst mencapai 90 derajat.
Petugas tidak dapat memfungsikan mesin pompa air skala besar karena minimnya sumber air di area karst. Tim pemadam terpaksa mengangkut air secara manual menggunakan alat semprot punggung (jet shooter).

Kondisi diperparah oleh hembusan angin kencang ke arah barat serta pekatnya asap yang mengganggu jarak pandang.
Meski demikian, tim berhasil melokalisasi dua titik api di tengah tebing karst, termasuk satu titik api yang berjarak hanya sekitar 500 meter dari permukiman warga.

Kebakaran ini membawa dampak ekologis yang serius bagi kawasan konservasi Maros-Pangkep. Rusaknya vegetasi bambu dan jati mengancam tempat hidup satwa endemik Sulawesi, khususnya tarsius. Suhu panas kebakaran juga menyebabkan batuan karst dari tebing berjatuhan ke dasar vegetasi.

Petugas di lapangan telah menemukan sejumlah bangkai satwa yang mati terbakar, seperti burung dan bunglon, sementara beberapa jenis reptil dan ular ditemukan berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api.

Ancaman tidak hanya menimpa keanekaragaman hayati, tetapi juga warisan budaya dunia di kawasan tersebut. Arkeolog dari Universitas Griffith Australia, Basran Burhan, mengungkapkan bahwa titik api membakar area persis di atas Situs Sabila, sebuah situs gua prasejarah yang menyimpan artefak alat batu dan sisa-sisa kehidupan purba.

“Situs Sabila posisinya berada di kaki bukit, sedangkan kobaran api berada tepat beberapa meter di atasnya. Kebakaran belum masuk ke dalam gua, tetapi ini berpotensi buruk,” ujar Basran.

Menurut Basran, lukisan cadas (rock art) purba sangat rentan terhadap perubahan iklim mikro. Radiasi panas ekstrem dan pemaparan asap jelaga hitam dapat memicu pengelupasan dinding gua serta menutupi pigmen gambar prasejarah secara permanen.

Ia juga menyoroti bahwa karhutla di kawasan karst Pangkep merupakan fenomena berulang sejak 2014–2015, yang umumnya dipicu oleh aktivitas manusia di titik-titik sumber air warga. Oleh karena itu, edukasi masyarakat dan pemantauan ketat pada iklim mikro tiap situs menjadi langkah mitigasi jangka panjang yang mendesak untuk dilakukan.