PANGKEP — Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terus meluas hingga memasuki hari keenam, Senin (5/10/2026). Luas areal terdampak melonjak dari semula 10–15 hektare menjadi 51,81 hektare, melintasi zona rimba hingga menembus zona inti taman nasional. Karakteristik medan bentangan karst yang terjal, tiupan angin kencang, serta tidak terdeteksinya titik api oleh satelit pemantau menjadi faktor utama lambatnya penanganan di lapangan.

Berdasarkan data Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul), kobaran api bermula dari Gunung Lesang pada Rabu (30/9/2026) dan dengan cepat merembet ke kawasan karst Matojeng hingga Kampung Sabila di Kelurahan Minasatene. Wilayah yang terbakar ini diketahui merupakan areal yang pernah mengalami kebakaran serupa pada tahun 2015.
Kepala Balai TN Babul, Abdul Rajab, mengonfirmasi bahwa pergerakan api hingga Senin sore telah melahap vegetasi khas karst dan bentangan rumpun bambu yang rapat di kaki gunung.

“Hasil identifikasi hingga pukul 15.00 Wita, estimasi luasan karhutla telah mencapai 51,81 hektare. Api menyeberang dari titik awal hingga melintasi beberapa zona konservasi, dari zona rimba sampai zona inti taman nasional,” kata Rajab saat dihubungi dari Pangkep, Senin.

Penanganan karhutla di TN Babul menghadapi tantangan teknis yang kompleks. Salah satu kendala krusial di awal kejadian adalah tidak terrekamnya titik panas (hotspot) oleh sistem pemantauan satelit Sipongi milik Kementerian Kehutanan. Hal ini membuat pengarahan awal tim pemadam berfokus pada upaya proteksi pemukiman warga terdekat secara manual.

Selain masalah deteksi dini, kondisi topografi batu karst yang curam tanpa akses jalan ke puncak menjadi hambatan utama personel di lapangan. Petugas tidak mungkin memanjat tebing karst secara langsung karena berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa.

“Karakteristik kebakarannya menyebar di celah-celah karst. Sangat tidak memungkinkan personel menjangkau ke celah tersebut. Terbatasnya kekuatan mesin pemadam untuk menjangkau ketinggian membuat petugas mengandalkan pompa punggung (jet shooter) yang digendong mendekati tebing,” papar Rajab.

Kondisi diperparah oleh material vegetasi serta batuan karst membara yang jatuh dari puncak tebing. Material panas yang gugur ke kaki gunung ini memicu titik-titik api baru (spot fires) di dekat permukiman warga, jauh dari titik awal kebakaran.

Proteksi Permukiman dan Sinergi Lintas Sektor
Komandan Regu 1 Manggala Agni TN Babul, Muhammad Ikfar, menambahkan bahwa strategi pemadaman kini difokuskan pada tindakan penyiraman berulang (mop up) dan penyekatan di kaki tebing untuk menahan laju api menuju perumahan penduduk.

“Kondisi api memang masih terpantau di puncak karst. Namun, tim terus melakukan penekanan di bawah kaki karst dan pembasahan pada rumpun bambu yang masih mengeluarkan asap tebal. Kami mengisolasi pergerakan api agar tidak merambah ke permukiman di Kampung Matojeng dan Sabila,” ujar Ikfar.

Upaya pemadaman ini melibatkan lebih dari 30 personel Manggala Agni Daops Gowa dan staf TN Babul, dibantu oleh armada Damkar Pemkab Pangkep, Damkar PT Semen Tonasa, personel TNI-Polri, serta masyarakat setempat. Balai TN Babul juga telah meminta tambahan perkuatan personel Manggala Agni dari daerah operasi lain guna mempercepat pemadaman.

Mengingat prediksi cuaca dan potensi tiupan angin kencang di kawasan ekosistem karst, otoritas taman nasional belum dapat menentukan target waktu pemadaman total. Evaluasi dan pemantauan pergerakan api terus dilakukan secara berkala setiap jam.