Pojoksiar.com – Pernyataan mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, memantik diskusi hangat di ruang publik. Sorotannya tajam: pidato Presiden Prabowo Subianto dalam forum internasional Board of Peace dinilai tidak secara eksplisit menyebut “Two State Solution” maupun “Palestinian Statehood”—dua frasa yang selama ini menjadi prinsip diplomasi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

Dalam forum yang juga dihadiri Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu, Dino menyayangkan tidak adanya penegasan langsung mengenai solusi dua negara. Padahal, menurutnya, momentum tersebut justru sangat strategis untuk menyampaikan posisi tegas Indonesia di hadapan para pemimpin dunia.

Titipan Ormas dan Amanat Moral

Dino mengungkapkan bahwa sebelum keberangkatan Presiden, sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam dan organisasi yang bergerak di bidang politik luar negeri telah menyampaikan pesan khusus. Ia sendiri hadir dalam pertemuan tersebut di Istana.

Pesan itu jelas: keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace harus didedikasikan untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Bukan sekadar mendorong perdamaian dalam arti sempit, tetapi memastikan berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

“Tanpa kemerdekaan atau statehood, damai dan makmur tidak akan ada artinya,” tegas Dino dalam pernyataannya.

Indonesia Berbeda Sendiri?

Menariknya, dalam forum yang sama, sejumlah negara Muslim secara eksplisit merujuk pada Two State Solution dan Palestinian Statehood dalam pidato mereka. Negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, dan Maroko disebut secara terbuka menegaskan dukungan terhadap solusi dua negara.

Perbandingan ini memunculkan pertanyaan: mengapa Indonesia—yang selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung paling konsisten kemerdekaan Palestina—justru tidak menyuarakan secara eksplisit dua istilah kunci tersebut?

Dino berharap hal itu hanyalah oversight atau keterbatasan waktu pidato. Namun ia menekankan pentingnya konsistensi bahasa diplomatik. Dalam forum internasional, pilihan kata bukan sekadar retorika, melainkan sinyal politik.

Jangan Sampai Forum Jadi “Perangkap”

Lebih jauh, Dino mengingatkan agar Board of Peace tidak berubah menjadi platform yang justru membungkam aspirasi kemerdekaan Palestina. Ia menilai ada kemungkinan forum semacam itu bergeser fokus—dari isu kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri menjadi sekadar stabilitas dan pembangunan ekonomi.

Padahal bagi Indonesia, menurutnya, prinsipnya jelas: perdamaian sejati hanya mungkin jika Palestina merdeka sebagai sebuah negara.