Pangkep – Suara AKP Imran lantang itu memecah sunyi di Lapangan Citra Mas, Pangkajene, Sulawesi Selatan, Minggu 17 Agustus 2026. Dia komandan upacara HUT ke-81 RI di Pangkep.
Badannya tegap, matanya lurus menatap mimbar utama. Bagi Kepala Seksi Humas Kepolisian Resor Pangkep itu, instruksi baris-berbaris bukan cuma urusan formalitas peringatan Proklamasi, melainkan ujian presisi.
Tahun ini menandai kali keempat Imran dipercaya memegang tongkat Komandan Upacara HUT Ke-81 RI di Pangkep. Rekam jejaknya mencatat posisi serupa pada edisi 2020, 2024, dan 2025. Namun, panggung kemerdekaan kali ini menyandarkan cerita yang berbeda bagi pria kelahiran Bulukumba, 3 April 1979 tersebut.
Di sudut lapangan, hanya berjarak beberapa meter dari pijakan komandonya, berdiri Bripda Muhammad Raihan Prayudha Imran. Anak sulung Imran yang baru lulus Bintara Polri Angkatan 50 pada 2023 itu memegang senapan laras panjang sebagai pengawal Pasukan Pengibar Bendera. Tak ada kontak mata di antara mereka selama sejam prosesi berlangsung. Professionalitas mengunci fokus masing-masing.
“Alhamdulillah sukses” ujar Imran seusai upacara.
Bagi Raihan yang sehari-hari bertugas di Satuan Reserse Kriminal Polres Pangkep, berada satu garis penugasan dengan sang ayah adalah mimpinya sejak kecil.
Bagi kalangan jurnalis lokal, sosok Imran dikenal luwes. Sejak memegang tampuk Humas Polres Pangkep pada 2022, ia kerap jadi jembatan informasi yang luwes dan tanpa jarak. Namun, kelihaian diplomasinya itu dibentuk oleh tempaan keras di lapangan. Imran pernah menjabat Kepala Unit Lalu Lintas serta Kasat Samapta Polres Pangkep.
Pengalaman paling berkesan baginya terjadi saat terpilih menjadi anggota Pasukan Garuda Bhayangkara XI UNAMID. Selama setahun di Sudan, ia belajar mengelola konflik geopolitik di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tempaan gurun Darfur itu yang membentuk ketenangannya—termasuk saat menyembunyikan getar bangga seorang ayah di tengah dentum upacara Kemerdekaan.

Tinggalkan Balasan