Pangkep — Gerakan sipil untuk advokasi lingkungan hidup di Sulawesi Selatan terus memperluas jejaringnya. Penutupan Sekolah Demokrasi Hijau di Kabupaten Pangkep menjadi momentum lahirnya Environmental Care Community Forum Indonesia (ECCF-Indonesia), sebuah wadah alumni yang berkomitmen mengawal isu ketahanan iklim dan ekonomi berkelanjutan dari tingkat tapak.
Rangkaian sekolah yang berlangsung selama empat pekan di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Pangkep tersebut resmi ditutup oleh Lembaga Demokrasi Celebes (LDC) bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Selatan, Sabtu (13/6/2026). Sebanyak 25 peserta yang terdiri dari elemen mahasiswa, aktivis lokal, perwakilan masyarakat kepulauan, hingga pegiat lingkungan terlibat aktif dalam konsolidasi ini.
Direktur LDC, Sjamsuddin Moedji, menegaskan bahwa Sekolah Demokrasi Hijau dirancang melampaui sekat ruang kelas konseptual. Forum ini memproyeksikan lahirnya aksi-aksi nyata yang langsung menyentuh problem ekologis di daerah.
“Melalui ECCF-Indonesia, kami berharap para alumni tetap terikat dalam satu simpul gerakan, berkolaborasi, dan mampu menjadi motor penggerak masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian nyata,” kata Sjamsuddin.
Secara kelembagaan, ECCF-Indonesia mengusung visi strategis untuk mewujudkan lingkungan yang lestari, mendorong model ekonomi hijau-biru yang inklusif, serta memperkuat resiliensi masyarakat pesisir dan kepulauan terhadap dampak krisis iklim.
Prosesi penutupan tersebut juga merefleksikan pentingnya dialog kebijakan antara warga dan pemangku kebijakan. Hadir dalam sesi diskusi tersebut Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Pariwisata, serta Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Pangkep.
Kehadiran jajaran birokrasi ini dinilai strategis untuk membuka ruang kolaborasi multipihak (multistakeholder).
Pembangunan daerah dinilai tidak bisa lagi mengabaikan aspek daya dukung lingkungan. Format ekonomi hijau-biru—yang mengintegrasikan kelestarian daratan dan keberlanjutan sektor kelautan—menjadi mutlak bagi wilayah seperti Pangkep yang memiliki karakteristik geografis kepulauan dan pesisir yang rentan.
Lahirnya ECCF-Indonesia di Pangkep ini diharapkan menjadi pemantik bagi konsolidasi gerakan serupa di wilayah lain di Sulawesi Selatan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menerjemahkan gagasan demokrasi hijau dan keadilan lingkungan tersebut ke dalam program kerja konkret yang berdampak langsung pada kesejahteraan generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan